Selasa, 14 Juli 2009

asal usul ayam


Berdasarkan nilai ekonomisnya,
ayam di dunia dikelompokkan
menjadi dua, yaitu ayam lokal atau
ayam asli dan ayam ras. Ayam lokal
belum disentuh teknologi seleksi
dan/atau persilangan. Ayam lokal
Indonesia hanya mampu memproduksi
telur 70-100 butir/tahun, dan
mencapai bobot 0,7-1,0 kg pada
umur 12 minggu. Ayam ras dapat
menghasilkan telur hingga 275
butir/ekor/tahun. Pertumbuhannya
pun cepat, mencapai bobot 2 kg/
ekor dalam waktu 4-6 minggu.
Ayam lokal di dunia berasal dari
ayam hutan. Ada empat spesies
ayam hutan, yaitu ayam hutan merah
(red junglefowl, Gallus gallus),
abu-abu (grey junglefowl, Gallus
sonneratii), ayam hutan India atau
ayam hutan Sri Lanka (junglefowl,
Gallus lafayetii), dan ayam hutan
hijau (green junglefowl, Gallus
varius), yang hanya ada di Indonesia
untuk dijadikan tetua ayam
bekisar. Ketiga spesies ayam hutan
lainnya didomestikasi untuk mendapatkan
telur dan daging.

Dengan menggunakan ilmu genetika
molekuler, para peneliti dari
Lembaga Ilmu Pengetahuan In-
donesia (LIPI), Balai Penelitian Ternak-
Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada,
Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran, dan Fakultas Kedokteran
Hewan Institut Pertanian Bogor,
telah melakukan penelitian
keanekaragaman sumber daya
hayati ayam lokal Indonesia. Salah
satu bab dari laporan tersebut ditulis
oleh Sri Sulandari, M.S.A. Zein, Sri
Paryanti, dan Tike Sartika, yang
membahas asal-usul ayam domestikasi
seperti diuraikan berikut ini.
Domestikasi ayam pertama kali
di dunia terjadi di sekitar Sungai
Kuning, Henan di Cina sekitar 6000
tahun sebelum Masehi (SM),
kemudian di Lembah Hindus, India
sekitar 2000 tahun SM. Domestikasi
pada awalnya bertujuan untuk
menyediakan ayam sabung bagi
kerajaan. Ayam hasil domestikasi
kemudian menyebar ke Mesir (157-
1320 SM), Suriah (2400 SM), Rumania
(600 SM), dan Korea (300
SM). Beberapa daerah sebaran
lainnya ditemukan di Afrika (Mali,
Afrika Selatan, Rwanda, Mozambik,
Nigeria dan Kongo) dan Eropa
(Spanyol, Swedia dan Inggris). Pada
awal domestikasi, kedudukan
ayam masih dikaitkan dengan berbagai
pemujaan, sebagai lambang
keperkasaan (ayam jago untuk kejantanan),
lambang kesuburan
(ayam betina untuk perempuan),
dan simbol cahaya dan kesehatan.
Bahkan pada zaman Romawi, ayam
banyak digunakan sebagai azimat
dan hewan korban kepada dewa
mereka (ayam putih dan hitam).

sumber:
Balai Penelitian Ternak
Jalan Raya Tapos, Ciawi

2 komentar:

zhie on 11 Februari 2011 17.44 mengatakan...

jadi duluan mana antara ayam sama telur.
bukan dari pengucapannya. secara ilmiah, mana yang ada lebih dulu.
Jujur, aku bingung. apa g ada penjelasan tentang hal itu??

Brayen Cinta ku on 14 Desember 2012 13.52 mengatakan...

Dari pertama itu TELUR bru AYAM...!

Poskan Komentar

AnDA PeNGunJUng KE

Gabung yuuk

 

Copyright 2008 All Rights Reserved | Revolution church Blogger Template by techknowl | Original Wordpress theme byBrian Gardner